TARAKAN – Jaringan peredaran narkotika di kawasan Kampung Bersinar yang berada di Kelurahan Selumit Pantai dan Juata Permai Kota Tarakan, disebut memiliki pola berulang. Lokasi yang telah dibongkar dan dihancurkan petugas kembali dibangun dan dimanfaatkan untuk aktivitas terkait narkotika.
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tarakan, Evon Meternik mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam upaya memberantas peredaran narkotika di kawasan tersebut.
“Sudah kita bongkar, sudah kita hancurkan, dibangun lagi di tempat yang sama,” ujar Evon, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, aktivitas di kawasan tersebut masih dapat ditemukan meski penindakan telah beberapa kali dilakukan. Jaringan disebut terus mencari cara untuk mempertahankan aktivitasnya, setelah lokasi sebelumnya ditertibkan.
Dalam patroli yang dilakukan belum lama ini di kawasan timbunan, petugas bahkan mendapati sekitar 30 hingga 40 orang berada di lokasi. Namun, keberadaan mereka berubah setelah mengetahui kedatangan aparat.
“Seperti kemarin saya melakukan patroli di timbunan. Itu lebih kurang ada 30-40 orang yang ingin melakukan, mencari terang-terang sekarang. Jadi begitu kita datang, rata-rata mereka sudah tiarap semua,” tuturnya.
Evon mengatakan, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya kebocoran informasi dari internal petugas. Menurutnya, jaringan telah menyiapkan orang yang bertugas mengawasi pergerakan aparat.
“Bukan bocor. Mata-matanya memang disiapkan. Mereka tahu personel ini, sudah hafal. Karena BNN ini orangnya itu-itu saja,” katanya.
Selain pola pengawasan terhadap petugas, keterbatasan personel juga menjadi kendala BNN dalam melakukan pengawasan secara terus-menerus. Petugas belum dapat ditempatkan untuk berjaga sepanjang waktu, di kawasan yang dianggap rawan.
“Karena kita keterbatasan anggota, jadi kita tidak bisa standby. Tapi kalau anggota kita banyak, kita bisa melakukan piket di tempat tersebut,” jelas Evon.
Di sisi lain, BNN juga menghadapi persoalan dukungan masyarakat. Evon menyebut ada warga yang memberikan informasi kepada petugas, tetapi dilakukan secara diam-diam karena khawatir terhadap jaringan.
“Ada yang mendukung kita, tapi secara diam-diam karena mereka takut. Mereka ingin mencari aman-aman saja. Paling membisikkan saja, Pak, di sana masih ada,” ungkapnya.
Namun, menurut Evon, sebagian masyarakat justru memilih mendukung jaringan karena telah lama bergantung pada aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan peredaran narkotika.
“Ada juga yang tidak mendukung kita, mendukung jaringan, karena sudah terlanjur menikmati kehidupan di sana. Jadi mereka sudah bertahun-tahun hidupnya dari sana. Akhirnya menjadi pendukung jaringan, bukan mendukung tugas kita,” lanjutnya.
Persoalan tersebut, kata Evon, juga berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Berdasarkan pemetaan BNN, sebagian warga di kawasan tersebut disebut memiliki keterbatasan keterampilan dan akses terhadap pekerjaan.
“Rata-rata masyarakat di situ tidak punya skill. Mereka tidak punya kemampuan bekerja, sehingga pekerjaan mereka yang paling mudah ikut jaringan tersebut,” ujarnya.
Karena itu, Evon menilai pemberantasan narkotika tidak cukup hanya dilakukan melalui pembongkaran dan penindakan. Faktor sosial dan ekonomi yang menjadi salah satu pemicu masyarakat terlibat dalam jaringan juga perlu ditangani.
“Kalau masalah itu tidak dipecahkan penyebabnya, maka akan terus berjalan. Kita kadang-kadang cuma ditanya orang itu apa akibatnya, tapi sebabnya ini tidak pernah kita pecahkan,” pungkasnya.
Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


