TARAKAN – Hampir 40 sekolah di Kota Tarakan masuk program revitalisasi sepanjang 2026. Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan kini mulai memetakan sekolah lain, yang membutuhkan penanganan untuk diusulkan dalam program revitalisasi 2027.
Kepala Disdik Tarakan, Tamrin Toha mengatakan revitalisasi tahun ini menyasar berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Penanganan setiap sekolah tidak dilakukan dengan pola yang sama. Bentuk pekerjaan disesuaikan dengan kondisi bangunan dan kebutuhan masing-masing sekolah.
“Di tahun ini hampir 40 sekolah yang mendapatkan revitalisasi. Ada PAUD, SD maupun SMP. Pekerjaannya tidak sama, ada yang rehabilitasi, ada pembangunan baru, dan ada juga yang dibongkar kemudian dibangun kembali,” ujar Tamrin, Selasa (29/9/2026).
Tamrin menjelaskan, rehabilitasi menjadi salah satu bentuk penanganan yang paling banyak dilakukan. Perbaikan difokuskan pada bagian bangunan yang mengalami kerusakan, agar kembali layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Dalam menentukan sekolah penerima revitalisasi, Disdik melihat kondisi sarana dan prasarana. Sekolah dengan tingkat kerusakan sedang hingga berat menjadi prioritas.
Sementara itu, kerusakan ringan masih dapat ditangani oleh sekolah melalui pemanfaatan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Kalau kerusakannya ringan, sekolah masih bisa melakukan perbaikan menggunakan BOS. Yang kita prioritaskan untuk revitalisasi adalah sekolah dengan kondisi kerusakan sedang sampai berat,” jelasnya.
Selain kondisi bangunan, keterbatasan lahan juga menjadi persoalan dalam pengembangan sejumlah sekolah di Tarakan.
Disdik mempertimbangkan pembangunan bertingkat sebagai salah satu opsi, ketika perluasan bangunan secara horizontal tidak memungkinkan. Namun, opsi tersebut tetap harus melihat kondisi struktur bangunan.
“Tidak semua bangunan bisa langsung ditambah lantai. Kita harus lihat dulu struktur bangunannya. Kalau memang memungkinkan, bisa dikembangkan dua atau tiga lantai. Tetapi kalau bangunan lamanya tidak mendukung, tentu perhitungannya berbeda,” katanya.
Menurut Tamrin, jika struktur bangunan lama tidak mampu menopang pengembangan secara vertikal, pekerjaan bisa membutuhkan penanganan lebih besar. Dalam kondisi tertentu, bangunan lama bahkan harus dibongkar sebelum dibangun kembali.
Karena itu, perencanaan revitalisasi tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan ruang kelas saat ini. Disdik juga memperhitungkan perkembangan jumlah peserta didik, ketersediaan lahan, keamanan struktur hingga kebutuhan sekolah dalam beberapa tahun ke depan.
“Yang paling penting jangan sampai kita membangun hanya karena mengejar tambahan ruangan, tetapi kemudian tidak sesuai dengan kondisi lahannya. Semua harus dihitung, termasuk struktur dan kebutuhan sekolah ke depan,” ujarnya.
Pelaksanaan revitalisasi tahun ini juga mendapat pengawasan dari sejumlah pihak. Disdik melakukan pemantauan terhadap pekerjaan, sementara kejaksaan dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menjalankan fungsi pengawasan sesuai kewenangannya.
“Pengawasan tetap ada. Dari dinas kita melakukan pemantauan, kemudian ada kejaksaan dan BPK yang juga memiliki fungsi pengawasan. Jadi pelaksanaan pekerjaan harus sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan yang berlaku,” tuturnya.
Meski hampir 40 sekolah telah masuk program revitalisasi 2026, kebutuhan perbaikan sarana pendidikan masih ditemukan di sekolah lainnya.
Disdik Tarakan akan melakukan pemetaan, untuk menentukan sekolah yang membutuhkan penanganan dan berpotensi diusulkan dalam program 2027.
Tamrin mengatakan, pemetaan akan mempertimbangkan tingkat kerusakan, kondisi bangunan, ketersediaan lahan hingga kebutuhan fasilitas masing-masing sekolah.
“Untuk tahun 2027, kita akan mengusulkan lagi sekolah-sekolah yang memang membutuhkan penanganan. Harapannya program revitalisasi bisa menjangkau lebih banyak sekolah, yang kondisinya memang perlu diperbaiki,” pungkasnya.
Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


