MALINAU – Kapolda Kalimantan Utara, Irjen Pol. Agus Wijayanto bersama Ketua Bhayangkari Daerah Kaltara, Ny. Santi Agus Wijayanto menerima kehormatan sebagai Warga Kehormatan Adat Dayak Lundayeh Kabupaten Malinau.
Penghargaan itu diberikan dalam sebuah prosesi adat yang berlangsung khidmat, penuh kekeluargaan, dan sarat makna, Jumat (21/8/2026).
Disamping itu, kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian agenda kerja Kapolda Kaltara. Pemberian penghargaan ini ditandai dengan pemasangan rompi adat Dayak Lundayeh sebagai simbol penerimaan, penghormatan, kepercayaan, dan persaudaraan dari keluarga besar masyarakat Adat Dayak Lundayeh.
Ketua Lembaga Adat Dayak Lundayeh Kabupaten Malinau, Paulus Belapang dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan kehormatan atas kehadiran Kapolda Kaltara yang berkenan menempatkan diri di tengah-tengah masyarakat adat Dayak Lundayeh.
“Kami Keluarga Besar Masyarakat Adat Dayak Lundayeh mendapat kehormatan yang luar biasa, di mana Bapak Kapolda Kaltara dapat menyempatkan diri hadir di tengah-tengah masyarakat Lundayeh, seperti yang terjadi pada hari ini,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat adat Dayak Lundayeh senantiasa menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat yang telah diwariskan oleh para leluhur, secara turun-temurun hingga saat ini.
Sebagai bentuk penghormatan dan penerimaan dalam semangat persaudaraan, Keluarga Besar Dayak Lundayeh kemudian memberikan nama adat kehormatan kepada Kapolda Kaltara Irjen Pol. Agus Wijayanto yaitu “Belawan Tadem.”
Pemberian nama adat tersebut memiliki makna dan harapan yang mendalam. Nama “Belawan Tadem” diharapkan menjadi lambang pribadi yang teguh dalam memegang prinsip serta kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Karena itu, ketika kami memberikan nama, kami menitipkan sebuah doa dan harapan,” lanjut Ketua Lembaga Adat Dayak Lundayeh.
Pemberian nama adat tersebut menjadi simbol ikatan persaudaraan antara Kapolda Kaltara dengan masyarakat adat Dayak Lundayeh. Kehormatan yang diberikan tidak hanya dimaknai sebagai bagian dari prosesi adat, tetapi juga sebagai bentuk kepercayaan dan harapan agar Kapolda Kaltara senantiasa diberikan kekuatan dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Sementara itu, Kapolda Kaltara menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh keluarga besar masyarakat adat Dayak Lundayeh, atas penerimaan dan kehormatan yang diberikan kepada dirinya bersama keluarga.
Menurut Kapolda Kaltara, pemasangan rompi adat dan pemberian nama kehormatan tersebut bukan sekadar prosesi seremonial, melainkan merupakan bentuk penerimaan, kepercayaan, dan persaudaraan yang diberikan dengan tulus oleh masyarakat adat Dayak Lundayeh.
“Atas nama pribadi dan keluarga, saya bersama Ibu menyampaikan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada seluruh keluarga besar Adat Dayak Lundayeh atas kehormatan yang diberikan kepada kami,” ujarnya.
Kehormatan ini membawa tanggung jawab moral untuk senantiasa menjaga persaudaraan, menghormati nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, serta bersama-sama merawat keharmonisan kehidupan bermasyarakat.(*)
Pewarta: Martinus
Editor: Yusva Alam


