TARAKAN – Pelajaran Bahasa Inggris bakal menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa Sekolah Dasar (SD) mulai tahun ajaran 2027/2028 mendatang. Merespons regulasi anyar dari pemerintah pusat tersebut, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan langsung bergerak cepat dengan menggencarkan bimbingan teknis (bimtek) bagi para guru.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tamrin Toha, menegaskan bahwa kesiapan tenaga pendidik menjadi kunci utama keberhasilan implementasi kebijakan ini. Disdik Tarakan tidak ingin membuang waktu mengingat aturan ini akan segera berlaku dalam waktu dekat.
“Kalau kita mau mengarah ke situ kan ya memang pasti pertama yang harus dilakukan menyiapkan gurunya. Mudah-mudahan nanti kalau ini kebijakan sudah diterapkan, ada kebijakan dari pemerintah pusat tentunya membuka formasi guru bahasa,” ujar Tamrin Toha, Minggu (28/6/2026)
Tamrin menjelaskan, mata pelajaran Bahasa Inggris ini nantinya akan mulai diwajibkan bagi siswa sejak menduduki bangku kelas 4 SD. Guna menyiasati kebutuhan pengajar yang mendesak sebelum formasi resmi dibuka, Disdik Tarakan memilih jalur akselerasi lewat pelatihan intensif.
“Sekarang sudah mulai di-bimtek guru-guru untuk bahasa Inggris,” jelasnya.
Melalui program bimtek ini, para guru SD yang ada saat ini dipersiapkan agar memiliki kompetensi dasar yang cukup untuk mengajar Bahasa Inggris di kelas.
Langkah Disdik Tarakan tidak berhenti di bimtek internal. Demi memenuhi lonjakan kebutuhan guru di masa depan, Disdik Tarakan berencana menjalin kerja sama strategis dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Borneo Tarakan (UBT) yang memiliki jurusan Bahasa Inggris.
Selain untuk memenuhi kebutuhan ruang kelas, Tamrin mengakui peningkatan kompetensi guru ini memiliki visi jangka panjang.
Guru-guru di Tarakan diharapkan tidak hanya mampu mengajarkan materi dasar, tetapi juga siap bersaing di kancah global, seperti dalam program pertukaran guru ke luar negeri yang kerap membuka peluang emas.
“Kami sadari bahwa ketika misalnya ada peluang-peluang pertukaran guru ke luar negeri, kan standarnya itu IELTS-nya harus 600-an. Nah, kalau guru-guru kita tidak bisa mencapai level itu, ya maka enggak bisa bersaing. Mendaftar pun tidak bisa,” pungkas Tamrin. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


