
BERAU – Meningkatnya aktivitas pariwisata dan pertumbuhan ekonomi di Pulau Maratua mulai memunculkan tantangan baru dalam sektor transportasi laut. Salah satunya adalah tingginya volume barang yang diangkut bersamaan dengan penumpang menggunakan armada speedboat reguler.
Kondisi tersebut mendapat perhatian Wakil Bupati Berau, Gamalis. Menurutnya, perkembangan kawasan kepulauan, khususnya Maratua, sudah saatnya diikuti dengan sistem transportasi yang lebih spesifik dan terorganisir, termasuk penyediaan layanan angkutan kargo khusus.
Saat meninjau aktivitas di Dermaga Wisata Sanggam beberapa waktu lalu, Gamalis melihat langsung bagaimana kapal penumpang tidak hanya mengangkut masyarakat dan wisatawan, tetapi juga berbagai jenis barang dengan volume yang cukup besar.
Mulai dari kebutuhan pokok masyarakat, paket kiriman, logistik usaha, perlengkapan hotel dan restoran, hingga barang bawaan wisatawan yang hendak berlibur ke Maratua masih diangkut dalam satu armada yang sama.
“Kalau kita lihat saat ini orang dan barang masih bercampur. Sementara barang yang dibawa tidak selalu terpantau jumlah maupun volumenya,” katanya.
Menurutnya, pola transportasi tersebut masih dapat berjalan saat volume barang belum terlalu besar. Namun seiring meningkatnya kunjungan wisatawan dan geliat usaha di kawasan kepulauan, kebutuhan ruang angkut logistik juga ikut bertambah.
Ia mencontohkan wisatawan mancanegara yang datang ke Berau umumnya membawa perlengkapan dalam jumlah cukup banyak. Bahkan untuk wisatawan penyelam, peralatan yang dibawa memiliki ukuran besar dan membutuhkan ruang penyimpanan khusus.
“Contohnya tadi ada wisatawan asing, satu orang membawa tiga tas besar. Belum lagi wisatawan yang datang untuk diving, mereka membawa peralatan-peralatan khusus yang ukurannya cukup besar,” ujarnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan transportasi menuju Maratua tidak lagi hanya berfokus pada mobilitas penumpang. Distribusi barang kini menjadi bagian penting yang menopang aktivitas ekonomi dan industri pariwisata di wilayah tersebut.
Gamalis menilai kondisi itu sekaligus menjadi indikator bahwa pasar jasa angkutan barang menuju kawasan kepulauan sudah mulai terbentuk. Bahkan, potensinya diperkirakan akan terus tumbuh sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha.
Menurutnya, keberadaan armada speed kargo khusus dapat menjadi solusi yang efektif. Selain memberikan kenyamanan lebih bagi penumpang, layanan tersebut juga mampu meningkatkan efisiensi distribusi barang ke wilayah kepulauan.
Dengan adanya armada khusus, proses pengiriman logistik dapat dilakukan secara lebih terukur, baik dari sisi kapasitas muatan maupun jadwal pengiriman. Hal ini penting untuk mendukung kebutuhan hotel, restoran, pelaku UMKM, hingga sektor jasa wisata yang terus berkembang di Maratua.
“Ke depan ini bisa menjadi perhatian, apakah diperlukan pemisahan antara angkutan orang dan barang. Kalau barang kecil masih bisa dibawa bersama penumpang, tetapi kalau volumenya sudah besar tentu perlu dipikirkan layanan tersendiri,” jelasnya.
Lebih jauh, Gamalis menilai peluang usaha di sektor transportasi laut masih sangat terbuka lebar. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Maratua diyakini akan berdampak langsung pada meningkatnya kebutuhan distribusi barang dari daratan utama menuju kawasan pulau.
Karena itu, ia mengajak pelaku usaha lokal untuk melihat potensi tersebut sebagai peluang investasi baru yang tidak hanya menguntungkan secara bisnis, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pembangunan daerah.
Menurutnya, sistem logistik yang semakin baik akan mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing sektor pariwisata Berau. Apalagi Maratua saat ini menjadi salah satu destinasi unggulan yang terus menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Ini peluang yang bisa dilirik pelaku usaha. Karena kebutuhan pengangkutan barang ke Maratua cukup besar dan terus berkembang seiring pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (adv)


