Verifikasi Geosite Dimulai Juli, Berau Matangkan Langkah Menuju Geopark Nasional

BERAU – Upaya Kabupaten Berau untuk meraih pengakuan sebagai kawasan Geopark Nasional memasuki tahapan penting.

Tim dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Berau guna melaksanakan verifikasi faktual terhadap sejumlah geosite yang menjadi bagian dari kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.

Kunjungan tersebut menjadi salah satu penentu dalam proses penilaian kawasan geopark yang membentang di wilayah Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Pemerintah daerah pun mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan guna memastikan proses verifikasi berjalan lancar.

Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau, Muhammad Said, mengatakan dari total 15 geosite yang tersebar di wilayah Berau, sebanyak tujuh titik akan menjadi fokus verifikasi tahap awal oleh tim dari kementerian.

“Untuk kehadiran tim dari kementerian nanti mereka akan memverifikasi sebanyak tujuh titik terlebih dahulu,” ujarnya.

Menurut Said, masih banyak masyarakat yang menyamakan istilah geopark dengan geosite. Padahal keduanya memiliki pengertian yang berbeda.

Geopark merupakan kawasan geografis yang memiliki nilai geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati yang dikelola secara terpadu. Sementara geosite adalah titik-titik lokasi yang memiliki nilai geologi penting di dalam kawasan tersebut.

Ia menjelaskan, kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat mencakup wilayah administrasi Kutai Timur dan Berau dengan jumlah geosite yang tersebar di berbagai lokasi strategis.

“Kalau geopark itu wilayah keseluruhan, sedangkan geosite itu titik-titiknya. Di Kutim ada 11 titik, sementara di Berau ada 15 titik, termasuk di wilayah Biatan, Kelay, dan Maratua,” jelasnya.

Menghadapi agenda verifikasi tersebut, Pemkab Berau meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk meningkatkan koordinasi. Persiapan tidak hanya menyangkut kesiapan lokasi yang akan dikunjungi, tetapi juga dokumen pendukung yang menjadi bagian dari penilaian tim verifikator.

“Nanti dinas-dinas terkait, terutama Dinas Pariwisata, akan menyiapkan seluruh kelengkapan dan dokumen pendukung yang diperlukan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya masih menunggu kepastian titik geosite yang akan masuk dalam agenda kunjungan tim Badan Geologi ESDM.

Meski demikian, berbagai langkah persiapan sudah dilakukan sejak dini. Tidak hanya melibatkan pemerintah daerah, tetapi juga pengelola destinasi wisata dan masyarakat yang berada di sekitar kawasan geosite.

“Kalau sudah ada lokasi yang sudah pasti dikunjungi akan lebih kita persiapkan, termasuk pengelola wisata dan masyarakat yang nantinya menjelaskan dukungan mereka terhadap pengembangan geosite,” ujarnya.

Yudha menjelaskan, sebagian besar geosite yang berpotensi masuk dalam agenda verifikasi merupakan kawasan yang telah memiliki fasilitas pendukung. Salah satunya adalah kawasan wisata Danau Labuan Cermin yang selama ini menjadi ikon wisata Berau. Selain itu, terdapat pula kawasan Air Panas Pemapak yang telah mendapatkan dukungan pembangunan infrastruktur penunjang.

Dengan tersedianya fasilitas dasar tersebut, perhatian pemerintah kini lebih difokuskan pada aspek pengelolaan kawasan, khususnya kebersihan lingkungan wisata yang menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian.

Menurutnya, hasil monitoring dan evaluasi sebelumnya menunjukkan bahwa kebersihan kawasan masih menjadi catatan yang perlu terus ditingkatkan. Karena itu, pengelola wisata bersama masyarakat diminta untuk menjaga kondisi lingkungan agar tetap bersih dan nyaman bagi pengunjung.

“Peningkatannya mungkin lebih ke masalah kebersihan yang harus kita jaga. Kemarin saat monev juga ditekankan soal kebersihan,” tuturnya.

Lebih jauh, Yudha berharap proses verifikasi yang akan berlangsung pada Juli nanti dapat menjadi langkah awal bagi Berau untuk memperoleh status Geopark Nasional. Predikat tersebut dinilai akan membuka peluang yang lebih luas bagi daerah untuk mendapatkan dukungan program dan pendanaan dari pemerintah pusat dalam pengembangan kawasan geopark.

Selain meningkatkan citra daerah sebagai destinasi wisata berbasis konservasi dan edukasi, status Geopark Nasional juga diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata berkelanjutan.

“Target awal kita bisa jadi Geopark Nasional. Kalau status nasional tercapai, tentu peluang program-program dari pusat untuk mendukung pengembangan kawasan ini akan lebih banyak lagi,” pungkasnya. (adv)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER