TARAKAN – Peluang ekspor komoditas unggulan Kalimantan Utara (Kaltara) ke pasar Tiongkok dinilai sangat menjanjikan. Namun, hingga kini pelaku usaha masih menghadapi berbagai kendala administrasi dan sistem dalam proses ekspor langsung.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Utara, Ichi Langlang Buana mengatakan, Tiongkok menjadi salah satu negara tujuan ekspor yang memiliki potensi besar bagi komoditas asal Kaltara. “Komoditas kita banyak yang diminati seperti sarang burung walet, kepiting, hingga rumput laut,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, selama ini sebagian besar komoditas dari Kaltara masih dikirim terlebih dahulu ke daerah lain untuk diolah sebelum diekspor ke luar negeri. Karena itu, pihaknya bersama Bea Cukai, kementerian teknis, pelaku usaha, dan instansi terkait mulai membahas percepatan ekspor langsung dari Kaltara.
Dia menyebut, banyak pelaku usaha sebenarnya ingin melakukan ekspor langsung ke Tiongkok. Namun, masih ada sejumlah kendala yang harus dipenuhi, terutama terkait administrasi dan persyaratan teknis. “Di Tiongkok ada persyaratan tambahan terkait dokumen dan penggunaan rekening bank di sana. Itu yang masih jadi kendala,” katanya.
Karena persoalan tersebut, sebagian pengiriman saat ini masih diarahkan melalui Hong Kong sebelum masuk ke Tiongkok. “Makanya diarahkan lewat Hong Kong, tapi tujuan akhirnya tetap ke Tiongkok,” jelasnya.
Ichi menuturkan, sejumlah dokumen ekspor memang menjadi syarat wajib sesuai ketentuan kementerian terkait. Namun dalam praktik di lapangan, masih ditemukan kendala sinkronisasi sistem dan prosedur administrasi.
Pemerintah pun kini berupaya menyederhanakan proses bisnis ekspor tanpa mengurangi fungsi pengawasan. “Harapannya proses ekspor bisa lebih mudah, tetapi prinsip pengawasan tetap berjalan,” ujarnya.
Di sisi lain, peluang pengiriman langsung dinilai cukup besar karena didukung akses penerbangan dari Tarakan menuju Hong Kong yang hanya memakan waktu sekitar tiga jam. Menurut Ichi, kondisi tersebut sangat menguntungkan untuk pengiriman produk hidup maupun produk segar seperti kepiting dan hasil perikanan lainnya. “Kalau lewat Jakarta bisa lebih dari 24 jam. Sekarang dengan penerbangan langsung total proses sekitar lima jam termasuk bongkar muat,” katanya.
Dia menambahkan, pemerintah masih akan terus mengevaluasi kebutuhan teknis terkait ekspor langsung, termasuk kemungkinan pengiriman komoditas hidup pada tahap berikutnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


