TARAKAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan mengapresiasi kehadiran Sekolah Nusantara Ramah Lansia (Nurani) yang digagas Yayasan Almarhamah. Program tersebut dinilai sebagai langkah konkret dalam mendorong para lanjut usia (lansia) tetap berdaya, sehat, dan produktif di tengah meningkatnya angka harapan hidup.
Wakil Wali Kota Tarakan, Ibnu Saud Is, mengatakan peningkatan jumlah lansia merupakan indikator membaiknya kesejahteraan dan pelayanan kesehatan. Berdasarkan data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2025, Tarakan mencatat angka 78,65 persen, tertinggi di Kalimantan Utara. Sementara data Disdukcapil 2025 menunjukkan terdapat 2.852 warga berusia 75 tahun ke atas atau 1,11 persen dari total penduduk.
“Kalau lansia bertambah, itu kabar baik. Artinya sistem kesehatan dan kesejahteraan kita berjalan. Angka harapan hidup meningkat, rata-rata sekitar 75 tahun. Itu menunjukkan pelayanan semakin baik,” ujar Ibnu Saud saat menghadiri wisuda 30 lansia angkatan pertama Sekolah Nurnani di Gedung Serbaguna, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, peningkatan angka harapan hidup harus diimbangi dengan kebijakan pemberdayaan. Dia mengingatkan agar lansia tidak mengalami disfungsi sosial, akibat terlalu dibatasi aktivitasnya di rumah. “Kadang karena rasa sayang, orangtua justru semua dilarang. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Tanpa sadar kita melatih mereka untuk tidak berfungsi. Padahal mereka masih ingin dan mampu berkontribusi,” katanya.
Melalui Sekolah Lansia, para peserta mendapatkan ruang untuk kembali aktif secara sosial. Kegiatan yang dijalankan meliputi pembinaan kesehatan, keagamaan, keterampilan, hingga aktivitas rekreasi. Program ini telah berlangsung sejak September 2025 hingga Januari 2026 dengan 12 kali pertemuan.
Ibnu Saud menegaskan, Pemkot Tarakan memandang lansia sebagai bagian penting dari pembangunan manusia. Pemerintah, kata dia, siap mengambil peran sebagai regulator, fasilitator, maupun pendukung dalam memperluas akses program serupa. “Kita ingin lansia di Tarakan sehat, sejahtera, mandiri, dan bahagia. Bahagia di usia senja. Mereka tetap bisa menjadi teladan di keluarga dan lingkungan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Almarhamah Muhammad Zulfunun menjelaskan, Sekolah Nurani dirancang sebagai intervensi sosial untuk mengubah lansia yang sebelumnya pasif menjadi kembali aktif dan berfungsi di tengah masyarakat.
Program ini memiliki tiga jenjang. Pada tahap S1, fokusnya mengubah kepedulian menjadi kebahagiaan melalui aktivitas sosial. Tahap S2 diarahkan pada pemberdayaan dengan pelatihan keterampilan produktif seperti membatik dan pembuatan sabun. Sedangkan S3 menargetkan peserta menjadi duta lansia yang aktif di berbagai kegiatan sosial, seperti posyandu dan TPA.
“Seluruh program tidak dipungut biaya. Pendanaan bersumber dari dana keumatan dan donasi masyarakat yang dikelola yayasan serta berkolaborasi dengan lembaga zakat,” jelasnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


