TARAKAN – Kota Tarakan mengawali tahun 2026 dengan mencatatkan deflasi sebesar 0,15 persen pada Januari 2026. Deflasi tersebut dipicu oleh turunnya tarif angkutan udara, yang menjadi faktor utama penekan harga di awal tahun.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angkutan udara memberikan andil deflasi month to month sebesar 0,32 persen. Penurunan tarif ini mampu meredam tekanan inflasi dari sejumlah komoditas lain yang masih mengalami kenaikan harga. “Turunnya tarif angkutan udara menjadi penyumbang terbesar terjadinya deflasi Kota Tarakan pada Januari 2026,” kata Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi dalam keterangan rilisnya, Selasa (3/2/2026).
Dengan capaian tersebut, inflasi year to date Kota Tarakan tercatat sebesar -0,15 persen. Sementara itu, inflasi year on year mencapai 4,31 persen, berada di atas kisaran target inflasi nasional 2,5 persen dengan toleransi ±1 persen.
Tingginya inflasi tahunan tersebut dipengaruhi oleh faktor low base effect. Pada Januari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang menyebabkan tarif listrik memberikan andil deflasi cukup besar. Hilangnya efek tersebut serta dampak normalisasi tarif listrik membuat inflasi tahunan pada Januari 2026 tampak lebih tinggi.
Sementara itu, emas perhiasan masih menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar secara bulanan dengan andil sebesar 0,26 persen. Dari sisi kelompok pengeluaran, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya menjadi penyumbang inflasi utama pada Januari 2026. “Kelompok Transportasi menjadi penahan utama laju inflasi dengan andil deflasi sebesar 0,23 persen, diikuti Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang menyumbang deflasi sebesar 0,18 persen,” jelasnya.
Sebagai pembanding, inflasi Provinsi Kalimantan Utara pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,10 persen secara bulanan dan 4,08 persen secara tahunan. Secara nasional, Indonesia mencatatkan deflasi month to month sebesar 0,15 persen dengan inflasi tahunan sebesar 3,55 persen.
Pemerintah Kota Tarakan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat sepanjang 2026.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


