TARAKAN – Keterbatasan ruang belajar masih menjadi tantangan besar bagi SMK Negeri 4 Tarakan seiring bertambahnya jumlah peserta didik. Di tengah kondisi tersebut, pihak sekolah menerapkan berbagai skema penyesuaian agar proses belajar mengajar tetap berjalan, termasuk sistem moving class dan pemanfaatan ruang sementara.
Kepala SMKN 4 Tarakan, Aliyas Imran, menjelaskan bahwa kebutuhan ruang kelas belum sebanding dengan jumlah siswa yang saat ini mencapai 743 orang. Dengan kebutuhan ideal sekitar 24 ruang kelas, sekolah masih kekurangan puluhan Ruang Kegiatan Belajar (RKB), belum termasuk kebutuhan laboratorium praktik.
Sejumlah ruang belajar sementara saat ini memanfaatkan bangunan bekas gudang di sekitar lingkungan sekolah. Bangunan tersebut disekat menjadi 10 ruang kelas sederhana, dengan fasilitas terbatas seperti lantai non-keramik dan pendingin ruangan berupa kipas angin. “Ruang-ruang inilah yang belakangan menjadi sorotan orang tua siswa hingga viral di media sosial,” ujarnya, Senin (2/2/2026).
Aliyas menegaskan, ruang tersebut sejak awal tidak dirancang sebagai kelas, namun terpaksa digunakan untuk mengakomodasi lonjakan jumlah siswa. Selain gudang, beberapa fasilitas penunjang yang dibangun pada 2025, seperti ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, hingga musala sekolah juga difungsikan sementara sebagai ruang belajar.
“Saat ini hanya ada tiga ruang kelas yang benar-benar representatif dan dilengkapi AC, dibangun pada 2022. Selebihnya kami harus melakukan penyesuaian,” jelasnya.
Untuk menjaga kenyamanan dan kesehatan siswa, sekolah melakukan pemetaan kondisi siswa, khususnya yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Siswa dengan kondisi kesehatan tertentu diprioritaskan menempati ruang yang lebih layak, sementara sistem perpindahan kelas diterapkan untuk mengoptimalkan penggunaan ruang yang ada.
SMKN 4 Tarakan sendiri berdiri pada 2020 dan mulai beroperasi penuh sejak 2021. Saat ini sekolah memiliki empat kompetensi keahlian, yakni Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG), Desain Komunikasi Visual, serta Animasi. Selain ruang kelas, sekolah juga masih membutuhkan laboratorium khusus untuk masing-masing jurusan beserta peralatan pendukungnya.
Pihak sekolah menyebutkan bahwa kondisi keterbatasan sarana ini telah berulang kali disampaikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Utara melalui jalur resmi. Usulan pembangunan terus diajukan setiap tahun, namun realisasi masih menunggu proses dan kebijakan pemerintah.
Saat ini, sekitar 13 rombongan belajar masih menempati ruang sementara, dengan rata-rata 36 siswa per kelas. Kondisi tersebut berpotensi semakin padat ketika siswa kelas XII yang tengah menjalani praktik kerja lapangan (PKL) kembali mengikuti pembelajaran penuh di sekolah. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


