TARAKAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan mencatat sebanyak 329 kejadian bencana terjadi sepanjang tahun 2025. Dari ratusan kejadian tersebut, BPBD mengungkap adanya ratusan gempa bumi yang sebenarnya terjadi, namun sebagian besar tidak disadari masyarakat.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, mengatakan dari total kejadian bencana itu, dua orang warga meninggal dunia, masing-masing akibat kebakaran dan tanah longsor di lokasi yang berbeda.
“Sepanjang 2025 tercatat 329 kejadian bencana. Korban meninggal dunia ada dua orang, dan ratusan warga terdampak langsung,” kata Yonsep, Minggu (25/1/2026).
Yonsep merinci, cuaca ekstrem menjadi bencana paling dominan dengan 114 kejadian, disusul tanah longsor sebanyak 64 kejadian. Sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat 15 kejadian, dan banjir hanya terjadi tiga kali. “Total warga terdampak mencapai 732 orang. Dampak terbesar terjadi saat gempa bumi pada November 2025, dengan jumlah warga terdampak sebanyak 378 jiwa,” ujarnya.
Dia menyebutkan, kejadian tanah longsor masih terkonsentrasi di wilayah yang sejak lama masuk dalam peta rawan bencana, seperti Kampung Bugis, Gunung Lingkas, dan Juata Permai.
Terkait gempa bumi, Yonsep mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 tercatat sembilan gempa yang dirasakan masyarakat, dengan gempa terbesar bermagnitudo 4,8 yang terjadi pada 5 November 2025.
“Dari laporan BMKG, sebenarnya ada ratusan gempa yang terjadi. Tapi kebanyakan kecil dan tidak dirasakan masyarakat, mungkin terjadi saat malam hari. Yang direkap hanya gempa yang dirasakan umum, jumlahnya sembilan,” jelasnya.
Sementara itu, untuk kejadian banjir, BPBD menilai Tarakan umumnya hanya mengalami genangan air akibat pasang laut yang menghambat aliran air hujan. Kondisi ini kerap terjadi di wilayah Karanganyar dan Gunung Lingkas, namun tidak masuk kategori banjir besar.
BPBD Tarakan, lanjut Yonsep, terus melakukan upaya mitigasi bencana melalui sosialisasi kebencanaan, pemasangan rambu peringatan, serta pelibatan aktif masyarakat dan aparatur kelurahan di kawasan rawan.
Meski karhutla pada 2025 dinilai lebih terkendali dibanding tahun sebelumnya, Yonsep tetap mengimbau masyarakat agar tidak lengah, terutama menghadapi potensi cuaca ekstrem di musim penghujan. “Kami minta warga yang tinggal di daerah rawan longsor, banjir, dan angin kencang untuk meningkatkan kewaspadaan agar tidak menimbulkan korban jiwa dan kerugian lebih besar,” pungkasnya. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


