Jelang Natal, Polres Tarakan Siapkan Pengamanan di 103 Gereja

TARAKAN — Polres Tarakan memperkuat pengamanan perayaan Natal 2025 dengan melibatkan lintas elemen masyarakat guna memastikan ibadah berjalan aman dan kondusif. Langkah ini dilakukan menyusul potensi meningkatnya aktivitas masyarakat dan kepadatan di sejumlah gereja di Kota Tarakan.

Kapolres Tarakan AKBP Erwin S. Manik, menyampaikan bahwa pengamanan Natal menjadi prioritas utama Polres Tarakan, mengingat terdapat 103 gereja yang akan melaksanakan ibadah Natal pada 24–25 Desember 2025.

“Dari jumlah tersebut, sebanyak 28 gereja diperkirakan akan dihadiri jemaah dalam jumlah besar sehingga berpotensi menimbulkan kepadatan, termasuk arus lalu lintas,” kata Erwin, Minggu (21/12/2025).

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Polres Tarakan menyiapkan skema pengamanan terpadu dengan melibatkan personel kepolisian, pemerintah daerah, serta organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. “Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut berperan aktif membantu pengamanan, agar umat Kristiani dapat menjalankan ibadah Natal dengan aman dan nyaman,” ujarnya.

Selain pengamanan Natal, Polres Tarakan juga akan melakukan pengamanan malam pergantian tahun pada 31 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Kapolres mengimbau masyarakat tidak menyalakan kembang api saat malam tahun baru, sebagai bentuk empati nasional atas bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh. “Masyarakat diharapkan merayakan pergantian tahun dengan kegiatan yang lebih sederhana, seperti doa bersama di rumah atau tempat ibadah,” ucap Erwin.

Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Daerah (Kabinda) Kalimantan Utara Andri Murhadi,  menilai pengamanan Natal tidak bisa hanya mengandalkan aparat keamanan, tetapi membutuhkan dukungan seluruh komponen masyarakat. “Stabilitas keamanan menjelang dan selama Natal sangat bergantung pada komunikasi dan kerja sama semua pihak. Keterlibatan tokoh agama, adat, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mencegah potensi gangguan keamanan,” kata Andri.

Dia menegaskan bahwa keberagaman di Kalimantan Utara merupakan modal sosial yang harus dijaga, terutama pada momentum hari besar keagamaan yang rawan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.

“Dengan koordinasi yang baik dan saling pengertian, perayaan Natal dapat berlangsung aman, damai, dan tidak menimbulkan gangguan kamtibmas,” ujarnya. (apc/and)

Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER