TARAKAN – Angka stunting di Kota Tarakan masih mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Meski demikian, prevalensinya tercatat tetap berada di bawah standar nasional.
Pada tahun sebelumnya, angka stunting berada di kisaran tiga persen, sementara pada tahun ini meningkat menjadi sekitar 4,58 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, dr. Devi Ika Indriati, mengatakan data tersebut berasal dari hasil pemeriksaan anak baduta atau anak di bawah usia dua tahun, bukan dari jumlah penduduk secara keseluruhan.
“Angka stunting ini dihitung dari anak baduta yang diperiksa. Jadi bukan dari total penduduk, melainkan dari hasil pengukuran tinggi badan anak sesuai dengan usianya,” ujar Devi, Senin (15/12/2025).
Penentuan stunting dilakukan dengan membandingkan tinggi badan anak dengan usia yang bersangkutan. Apabila tinggi badan tidak sesuai dengan umur, maka anak tersebut dikategorikan mengalami stunting.
Setiap temuan stunting yang tercatat dalam sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPBGM) langsung ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Tarakan. Data yang bersifat by name dan by address memudahkan petugas kesehatan untuk melakukan pelacakan serta verifikasi ulang di lapangan.
“Begitu data masuk di EPPBGM, petugas kami turun untuk memastikan kondisi anak. Kalau hasil verifikasi memang stunting, langsung kami lakukan intervensi,” jelasnya.
Intervensi yang diberikan meliputi pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal, serta pemantauan dan evaluasi terhadap pola makan dan asupan gizi anak secara berkala.
Wilayah pesisir masih menjadi fokus utama dalam penanganan stunting, khususnya di kawasan Pantai Amal dan Selumit Pantai. Devi menyebut tingginya mobilitas dan perpindahan penduduk di wilayah tersebut turut memengaruhi dinamika angka stunting di Tarakan.
“Kasus stunting masih banyak kami temukan di wilayah pesisir. Salah satu faktornya karena mobilitas penduduk cukup tinggi, dan sebagian besar berasal dari keluarga pendatang,” ungkapnya.
Ia menegaskan peran posyandu sangat krusial dalam upaya pencegahan stunting. Melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan anak setiap bulan, potensi stunting dapat dideteksi sejak dini.
“Pemantauan rutin di posyandu ini penting sebagai langkah awal mencegah kekurangan energi kronis yang bisa berujung pada stunting,” katanya.
Upaya pencegahan, lanjut Devi, difokuskan pada lima tahun pertama kehidupan anak yang merupakan masa emas pertumbuhan fisik dan perkembangan otak. Meski stunting tidak dapat diperbaiki secara instan dari sisi tinggi badan, intervensi sejak dini diharapkan dapat menjaga perkembangan kecerdasan anak agar tidak berdampak pada prestasi belajar maupun kualitas hidup di masa depan.
Data stunting di Kota Tarakan terus diperbarui setiap bulan. Saat ini, prevalensi stunting tercatat sekitar 4,58 persen dari anak yang diperiksa, dengan konsentrasi kasus terbanyak masih ditemukan di wilayah pesisir kota.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


