TARAKAN — Koperasi Merah Putih Kelurahan Selumit terus berupaya bertahan, di tengah belum terealisasinya janji bantuan modal sebesar Rp 5 miliar dari pemerintah sejak koperasi itu dilaunching pada 21 Januari 2025.
Meski tanpa dukungan anggaran, aktivitas koperasi tetap berjalan berkat modal mandiri dari para pengurusnya.
Wakil Ketua Bidang Usaha Koperasi Merah Putih Selumit, Hamdani, mengungkapkan bahwa koperasi yang ditunjuk sebagai percontohan se-Kalimantan Utara ini, semestinya mendapatkan bantuan modal lebih besar dibandingkan 19 koperasi lain di Kota Tarakan. Namun hingga kini, dana tersebut belum cair dan tidak ada kejelasan kapan akan direalisasikan.
“Sampai sekarang belum ada sama sekali. Bahkan sudah beberapa kali kami sampaikan ke pihak dinas dan kementerian, tapi belum ada jawaban pasti,” ujarnya, Kamis (4/12/2025)
Hingga saat ini, koperasi berjalan menggunakan uang pribadi lima pengurus inti dan sejumlah pengawas. Anggota koperasi yang berasal dari ketua RT dan pelaku UMKM Kelurahan Selumit, awalnya berjumlah lebih dari 100 orang, namun sebagian mulai pasif karena menunggu kepastian dukungan pemerintah.
“Kami tetap eksis karena pengurus ini pengusaha semua. Tapi tanpa modal jelas, sulit untuk mengembangkan koperasi,” kata Hamdani.
Koperasi Selumit saat ini bergerak di beberapa lini usaha, salah satunya produksi pupuk organik berbahan limbah rumah tangga. Produk pupuk tersebut bahkan sudah diuji coba di Malinau untuk tanaman kakao.
Selain itu, koperasi menjalankan penjualan LPG 3 kg dan beras SPHP, meski Hamdani mengakui margin keuntungannya sangat tipis. Keterbatasan alokasi LPG dari Pertamina juga membuat pelayanan kepada warga sering tersendat.
“Kami hanya dapat 200 tabung sebulan. Sementara permintaan masyarakat jauh lebih besar. Kami sudah minta tambahan, tapi belum ada jawaban,” jelasnya.
Hamdani menjelaskan, bahwa aset gedung yang digunakan koperasi adalah milik kelurahan, sementara kebutuhan perizinan dibantu Pemkot Tarakan. Namun setelah itu, seluruh operasional dan perlengkapan dibiayai pengurus.
“Bukan bangunannya yang kami butuhkan. Yang paling penting itu modal,” tegasnya.
Hamdani mengaku pihaknya beberapa kali dikunjungi perwakilan kementerian, namun sejauh ini hanya untuk menerima masukan tanpa memberikan solusi. Bahkan pembangunan gedung koperasi modern yang sempat diletakkan batu pertamanya, juga tak jelas kelanjutannya.
“Kami takut koperasi ini hanya dijadikan alat seremonial saja. Padahal koperasi Selumit ini percontohan. Kalau percontohan saja setengah mati, bagaimana yang lain?” ucapnya.
Hamdani berharap pemerintah daerah maupun pusat segera memberikan kejelasan terkait bantuan modal, agar koperasi percontohan ini benar-benar bisa menjadi penggerak ekonomi masyarakat sesuai amanat Presiden Prabowo.
“Mudah-mudahan ada perbaikan. Jangan sampai koperasi ini dibiarkan berjalan sendiri tanpa dukungan.” ujarnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


