Wanadri Rampungkan Ekspedisi Sungai Kayan 2025, Temukan Potensi Wisata dan Tantangan Akses

TANJUNG SELOR – Ketua Kayan Ekspedisi Wanadri 2025, Mochammad Azis, bersama timnya telah menyelesaikan perjalanan mengarungi Sungai Kayan selama kurang lebih 64 hari.

Kepada awak media, Azis menyampaikan bahwa tujuan utama ekspedisi ini bukan semata petualangan, melainkan untuk menelusuri wilayah-wilayah Indonesia terluar, khususnya Kalimantan Utara (Kaltara) termasuk kawasan perbatasan seperti Apau Kayan.

Melalui potret langsung di lapangan, diharapkan media dan potensi yang ada di Kaltara dapat diketahui secara luas hingga ke mancanegara.

“Seperti apa jalur transportasinya, akses, dan lain sebagainya. Lebih kepada itu sebenarnya. Kalau soal petualangan atau penjelajahan sungainya hanya bagian kecil dari tujuan kami, yaitu membuka informasi tentang wilayah Kaltara, terutama Apau Kayan,” tuturnya.

Dalam penelusuran sepanjang Sungai Kayan, tim menemukan banyak potensi yang bisa dikembangkan, khususnya jika didukung dengan infrastruktur memadai. Salah satunya pada segmen Riam Embun hingga Nahagamang yang berpotensi mengundang kayaker kelas dunia.

“Kelas dunia itu bisa masuk. Hanya saja, masalahnya ada pada akses, transportasi, dan dukungan logistik,” jelasnya.

Azis juga menyebutkan, bahwa Sungai Kayan memiliki karakteristik unik dibanding sungai-sungai lain di Kalimantan. Umumnya, sungai di Kalimantan bisa menjadi jalur transportasi dari hulu ke hilir secara penuh. Namun hal itu tidak berlaku di Sungai Kayan.
“Di Sungai Kayan ini tidak ya. Tidak menjadi sungai penghubung antara area hulu dan hilir, sehingga pasti ada kesulitan. Itu salah satu tantangan bagi kami,” ucapnya.

Ekspedisi Sungai Kayan 2025 ini merupakan yang pertama dilakukan oleh Wanadri. Sebelumnya, Sungai Kayan pernah dieksplorasi oleh Mapala UI pada tahun 1990, ekspedisi dari tim Eropa pada tahun 2014, serta ekspedisi Belanda sekitar tahun 1918.

Selain potensi olahraga arung jeram dan kayak, Wanadri juga menyoroti potensi wisata alam dan budaya. Segmen Nawang hingga Datadian, misalnya, dapat dikembangkan sebagai wisata sungai dengan konsep berkemah di beberapa titik, lalu dipadukan dengan budaya lokal di Long Nawang, termasuk kearifan lokal seperti tradisi berburu.

“Walaupun memang membutuhkan investasi yang sangat besar, tapi peluangnya ada. Jika dikemas dengan baik, bisa menjadi paket wisata tersendiri,” pungkasnya.

Penulis: Martinus
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER