Tarakan Siapkan Gudang Tunda Jual Rumput Laut Kapasitas 40 Ton

TARAKAN – Pemerintah Kota Tarakan melalui Dinas Perikanan tengah mempersiapkan pembangunan gudang tunda jual atau resi gudang khusus rumput laut di Kelurahan Pantai Amal, tepatnya di depan pabrik pengeringan rumput laut.

Gudang ini akan menjadi bagian dari skema pengelolaan pascapanen, untuk menstabilkan harga dan menjaga kesejahteraan pembudidaya.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Perikanan, Ersan Dirgantara, menjelaskan bahwa gudang tersebut memiliki kapasitas tampung sekitar 40 ton kering atau setara dengan 3 hingga 4 kontainer.

“Konsepnya tunda jual. Jadi rumput laut ditampung dulu, pembudidaya tetap dibayar sesuai harga pasar. Namun sebagian pembayarannya ditalangi oleh perbankan dan pengelola. Lalu saat harga naik, produk dilepas dan selisihnya dikembalikan ke sistem,” jelasnya di Tarakan, belum lama ini.

Saat ini produksi rumput laut di Tarakan mencapai hampir 32 ribu ton per tahun, dengan volume penjualan sekitar 3.000 hingga 3.500 ton. Dengan kapasitas gudang yang cukup besar, produk dapat disimpan selama beberapa bulan untuk menghindari gejolak harga pasar.

Harga rumput laut saat ini relatif stabil. Untuk jenis lembab berkisar Rp7.000–Rp8.000/kg, sedangkan rumput laut kering Rp12.000–Rp12.500/kg. Adapun rumput laut basah dihargai sekitar Rp1.500/kg.

Meski stabil, Ersan mengakui adanya penurunan permintaan dari Tiongkok sebagai pasar utama ekspor akibat situasi perang dagang.

“Kita tetap ekspor ke Tiongkok lewat Makassar dan Surabaya. Tapi memang volume pesanan menurun,” tambahnya.

Terkait pengelolaan gudang, Ersan menyebut ada dua opsi yang tengah dipertimbangkan: dikelola oleh koperasi Merah Putih atau Perusahaan Umum Daerah (Perumda). Penentuan akhir menunggu kebijakan dari Wali Kota Tarakan.

Selain itu, Dinas Perikanan juga terus melakukan pembenahan dari hulu hingga hilir. Salah satunya dengan mendorong peningkatan kualitas rumput laut, mulai dari bibit hingga pengeringan.

“Selama ini pengeringan masih konvensional, di pinggir jalan, kurang higienis. Kami coba perkenalkan sistem gantung seperti di Sebatik yang lebih bersih dan rendemennya tinggi. Bisa capai 1,1 kg dibanding sistem lama yang hanya 0,8–0,9 kg,” paparnya.

Namun, Ersan mengakui bahwa perubahan metode belum sepenuhnya diterima oleh para pembudidaya karena dianggap merepotkan.

Di sisi tenaga kerja, sektor rumput laut memberi kontribusi besar pada ekonomi lokal. Saat ini tercatat ada sekitar 433 pembudidaya aktif dan lebih dari 1.000 tenaga kerja terlibat, termasuk ibu-ibu pekerja borongan yang mengikat rumput laut.

“Ini sektor yang menghidupi ribuan orang. Jadi harus benar-benar kita kelola dengan baik dari hulu hingga hilir,” pungkasnya.

Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER