asd
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Upaya Pencegahan Stunting Intens Disosialisasikan sebagai Upaya Menuju Generasi Sehat dan Berkualitas

TANJUNG SELOR – Seminar yang diadakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Bulungan, membahas transformasi pernikahan dini dan dampaknya terhadap stunting.

Dengan tujuan, menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas. Sejauh ini, angka prevalensi stunting di Bulungan menurun dari tahun ke tahun, namun masih perlu upaya lebih lanjut untuk mencapai target Nasional.

Seminar pencegahan stunting dan pengembangan potensi pola tumbuh kembang anak, berlangsung di Universitas Kaltara. Seminar tersebut menghadirkan narasumber Arief Boedi, seorang konsultan pendidikan anak dan psikolog lulusan Seoul University Korea.

Kegiatan ini, merupakan bagian dari upaya penurunan stunting menuju Generasi Emas 2045, sekaligus mendukung misi pembangunan di Kabupaten Bulungan, yaitu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.

Seminar tersebut  mengusung tema Transformasi Pernikahan Dini dan Dampaknya terhadap Stunting, Menuju Generasi Sehat dan Berkualitas.

Sosialisasi yang melibatkan mahasiswa dan pelajar soal pencegahan stunting.

Peserta seminar terdiri dari siswa tingkat SMP dan SMA, beserta guru pendamping serta mahasiswa di Bulungan. Ketua DWP Bulungan, Lenny Marlina Risdianto, mengungkapkan bahwa angka prevalensi stunting di Bulungan tahun 2022 mencapai 18,9 persen. Dengan target nasional di tahun 2024 yaitu 14 persen.

Meski angka stunting di Bulungan lebih baik dibanding angka di tingkat provinsi maupun kabupaten kota se-Kalimantan Utara, Lenny menekankan bahwa seluruh pihak harus terus berupaya melakukan penurunan stunting.

“Kita mesti kolaborasi dalam menekan angka stunting di Kabupaten Bulungan,” ujarnya, Minggu (19/11/2023).

Salah satu upaya yang dilakukan dalam seminar ini, dapat memberikan pengetahuan, wawasan, dan pemahaman kepada generasi muda, khususnya calon Pasangan Usia Subur (PUS) atau calon pengantin, untuk mengubah sikap terhadap pernikahan dini.

Lenny menjelaskan, ada tiga titik upaya pencegahan stunting. “Pertama soal pengetahuan calon PUS tentang kesehatan ibu, anemia saat kehamilan, dan masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang menentukan masa depan anak,” tuturnya.

Pentingnya 1.000 HPK untuk mewujudkan masa depan anak yang sehat, membuat Lenny berpesan kepada generasi muda dan calon PUS, agar sungguh-sungguh mengikuti kegiatan tersebut untuk meningkatkan wawasan, ilmu, dan pengetahuan.

“Diharapkan upaya ini dapat menjadi langkah awal, dalam mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas di masa depan,” tandasnya. (tin/and)

Editor: Andhika

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER