spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sudah 2 Minggu Harga Beras dan Cabe di Pasar Tenguyun Naik

TARAKAN – Sejumlah harga bahan kebutuhan pokok di Pasar Tenguyun, Kota Tarakan terpantau mengalami kenaikan.

Berdasarkan penelusuran mediakaltimtara.com, pada Selasa (21/2/2024) pagi tadi, salah satu bahan pokok yang mengalami kenaikan adalah beras. Bahkan, kenaikan beras telah terjadi sejak dua minggu lalu.

Pedagang di Pasar Tenguyun, Ahmad Andri (21) menjelaskan, kenaikan terjadi pada semua jenis beras baik premium maupun medium. Rata-rata mengalami kenaikan Rp2-5 ribu per kilogram. Dijelaskannya, harga beras termurah ada pada jenis Mawar yakni Rp 150 ribu per 10 kilogram.

Kemudian harga beras termahal ada pada jenis Lahap, untuk 20 kilogramnya sebesar Rp 342 ribu.

“Sebelumnya Rp 320 an, naiknya 20 puluh lebih,” katanya.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, kenaikan beras sudah terjadi pada pihak distributor yang berada di Sulawesi maupun Jawa.

Imbas dari naiknya harga beras ini, lanjut Ahmad, banyak masyarakat yang mengeluh. Tidak hanya itu, akibat dari kenaikan ini terjadi penurunan penjualan beras namun dia tidak mengetahui pasti besaran penurunan tersebut.

Baca Juga:   BMKG: Malam Pergantian Tahun, Tarakan Berpotensi Hujan

Dari hasil penelusuran, kenaikan tidak hanya terjadi pada beras, namun juga pada cabai rawit lokal. Kenaikan itu diceritakan pedagang sayur di Pasar Tenguyun bernama Sundari (38). Ia mengatakan harga cabai rawit lokal di Tarakan sudah mencapai Rp 150 ribu. Bahkan, beberapa minggu lalu harganya sempat menembus Rp 200 ribu. Kenaikan ini menurutnya, terjadi karena adanya penurunan stok.

“Kalau stabil, harganya Rp 60-70 ribu,” ucapnya.

Pedagang yang telah berjualan selama 16 tahun ini lanjut menjelaskan, kenaikan harga cabai dikeluhkan banyak pembeli. Namun karena cabai merupakan salah satu kebutuhan wajib, ia mengatakan jumlah penjualan tidak mengalami penuruan signifikan. Ia pun berharap kenaikan bahan-bahan kebutuhan pokok tidak berlangsung lama sehingga tidak merugikan masyarakat.

Penulis: Ade Prasetia

Editor: Yusva Alam

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER